Featured Post

Eyeshadow Palette Netral Harga 50ribuan! Just Miss Eyeshadow Palette Umbra

Setelah penantian lama, akhirnya brand lokal ada yang ngeluarin eyeshadow palette yang bernuansa netral. Biasanya rata-rata brand lokal...

Pengemis (Yang Katanya) Tajir

Tadi pagi nonton acara semacam talk show di salah satu stasiun TV. Kebetulan acara yang dibahas tentang Irfan si pengemis 'tajir', begitulah headline-nya. Aku jadi inget waktu buka Facebook ada artikel dari Hipwee tentang si Irfan ini, bisa baca di sini dan aku saranin untuk dibaca agar we get another point of view. Berita tentang Irfan ini jadi heboh lantaran dia punya 2 buah smartphone mahal dan satu jam tangan bermerek.

Dalam hati kalian pasti berfikir gini, "Ih enak banget sih tuh orang, kerjaannya cuma minta-minta, bisa punya hape dan jam tangan mahal!" Atau "Kenapa mesti ngemis sih? Kan ada pekerjaan lain, yang penting halal. Banyak kok penyandang disabilitas yang ga minta-minta!" Dan berbagai pikiran negatif lainnya.

Guys, pendapat kalian ga salah. Aku juga ga setuju sama orang yang menjadikan ngemis sebagai profesinya, jikalau orang tersebut masih mampu untuk bekerja layaknya orang normal, tapi berpura-pura susah atau cacat dan dengan sengaja menjadikan ngemis itu sebagai profesinya. Tapi mari melihat sisi lain kasus ini. Irfan memiliki ketidaksempurnaan fisik, bahkan dari bicaranya yang aku lihat di TV tadi agak susah dan tampak ketakutan ketika ditanyai oleh si pembawa acara. Yang bikin gregetan tuh headline "Pengemis Tajir" yang diangkat dan arah pembicaraan baik dari pembawa acara maupun narasumber yang menyudutkan Irfan. Seolah-olah dia mengemis karena keenakan jadi pengemis, ga kerja berat tapi dapet duit banyak. Seolah-olah dia punya uang ratusan juta, bisa beli rumah gedong atau mobil. Ya memang dia punya smartphone dan jam tangan, tapi mungkin aja smartphonenya untuk dia modal usaha ke depannya, sedangkan jam tangan untuk hadiah ibunya. Mungkin aja dia ingin sesekali ngebahagiain keluarganya dan menunjukkan kalau dia ga hidup susah dan menyusahkan orang lain. Sama kayak kita yang kerja ngumpulin duit buat bisa ngajak jalan-jalan ortu atau memberangkatkan haji ortu kita walaupun gaji kita sebenarnya juga ga banyak-banyak amat.

Bukannya membenarkan profesi mengemis, tapi I believe Irfan ini mengemis karena keterpaksaan. Dia sendiri mengakui bahwa dia malu ketahuan bekerja sebagai pengemis. Dia mungkin mau kerja tapi ga ada yang mau nerima, mau usaha ga ada keterampilan apalagi modal. Kalau saja fisiknya normal, mungkin dia akan memilih bekerja walaupun itu cuma jadi buruh atau berkebun. Sama aja kayak kita yang mungkin karena lupa ada tugas jadi nyalin pekerjaan teman karena guru atau dosennya killer banget. Atau terpaksa kerja di hari weekend demi mengejar pemasukan.  Atau rela nabung berbulan-bulan buat beli eyeshadow palette ratusan ribu. Semuanya juga karena terpaksa kan?

Sekali lagi,  bukan pembenaran atas alasan keterpaksaan. Tapi coba deh keluarkan rasa iba kalian sedikit aja. Kalau ga bisa, posisikan diri kalian jika menjadi orang tersebut. Bagaimana jika kalian memiliki keterbatasan fisik, orang tua kalian ga punya duit apalagi kekuasaan, lingkungan dan teman-teman justru menghina keterbatasan fisik kita, kita mau kerja ga ada yang mau nerima, mau usaha sendiri ga punya modal dan keterampilan, posisikan diri kalian seperti itu. Apa masih bisa menghujat dan menghakimi orang lain? Mari sejenak mengesampingkan pemikiran rasional seperti mestinya dia usaha begini mestinya dia usaha begitu. Aku yakin ga ada satu orang pun yang ingin dilahirkan dalam kondisi susah. Ga ada orang normal yang bangga mengakui kalau profesinya adalah pengemis. Mari kita semua melihat kasus ini dari sudut pandang lain.

Tahu ga kenapa kita punya semua yang kita punya saat ini? Karena Tuhan memudahkan jalan kita dan mengijinkan kita untuk punya segalanya yang kita miliki saat ini. Kalau Tuhan berkehendak, apapun yang kita punya saat ini bisa dengan mudah diambil-Nya kembali. Jadi please tumbuhkan rasa kemanusiaan kalian dengan tidak menghakimi orang lain. Karena belum tentu kita mampu bertahan jika kita sendiri berada dalam posisi orang tersebut.

Humanity doesn't need any logical or rational thinking. We just need to feel with heart.


Share:

2 komentar

  1. atau rela nabung berbulan-bulan demi beli esedo pallete.... uhuk. >.< aku nabung demi lipstik dong.. gimana? :/

    aku ga ada ngikutin berita ttg irfan itu sih Vi. tapi ya positive thinking aja lah seperti katamu ya Vi.


    tulisandarihatikecilku.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. uhuk itu juga aku banget sih :(

      iya lebih baik kalo ngelihat dari sudut pandang lain gimana kalo kita yg ada di posisi orang itu. saatnya kita bersyukur masih diberi kecukupan sama Tuhan.

      Delete

Feel free to drop your comment. I will reply it as soon as possible. ^^